
Published Date: February 8, 2010
KARACHI, Pakistan (UCAN) — Seorang imam Katolik kehilangan enam sanak keluarganya dalam dua ledakan di kota komersial Pakistan yang menewaskan sedikitnya 33 orang dan melukai puluhan lain, banyak dalam keadaan kritis.
Lebih dari seribu orang Kristen menghadiri pemakaman enam umat Katolik yang tewas dalam ledakan bom 5 Februari di Karachi, ibukota Provinsi Sindh itu.
Di antara korban tewas yang kebanyakan umat Islam kelompok minoritas Syiah itu terdapat delapan orang Kristen dan seorang Hindu. Polisi yakin, kelompok militan Al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden itu terlibat.
Ledakan pertama menargetkan sebuah minibus yang mengangkut penumpang yang ingin mengikuti suatu prosesi keagamaan. Selang waktu dua jam, ledakan lain terjadi di area parkir di Jinnah Postgraduate Medical Centre, tempat para korban yang tewas dan terluka dari ledakan pertama dibawa.
Kementerian Dalam Negeri Pakistan menggambarkan serangan-serangan Karachi itu sebagai insiden “kekerasan sektarian.” Dewan Ulama Syiah mengumumkan tiga hari berkabung.
Pastor Tariq Rehmat, pastor pembantu di Paroki St. Jude, kehilangan enam anggota keluarga dekatnya termasuk adiknya. “Salah satu keponakan saya melahirkan seorang bayi cantik di rumah sakit itu hari yang sama. Saudari saya, bersama suami dan anak-anaknya, datang ke rumah sakit untuk mengucapkan selamat dan merayakan momen yang penuh kebahagiaan itu. Tapi keadaan menjadi buruk akibat terorisme di kota,” kata Pastor Rehmat dengan mata berkaca-kaca.
Berbagai saluran berita menayangkan pemakaman enam orang Katolik di Katedral St. Patrick itu.
Uskup Agung Karachi Mgr Evarist Pinto mempersembahkan Misa dengan 37 imam termasuk Pastor Rehmat. Peti jenazah para korban ledakan dibawa ke dalam katedral menjelang Komuni. Sejumlah pelayat yang mengenakan ikat lengan berwarna hitam mengungkapkan rasa berbelasungkawa kepada Pastor Rehmat setelah pemakaman.
Pastor Pascal Robert, ketua Idara Amn-o-Insaf (komisi keadilan dan perdamaian), menyatakan terkejut atas pemboman itu. “Insiden ini menunjukkan bahwa tidak ada yang aman dalam keadaan seperti itu. Kami mendesak presiden dan perdana menteri untuk memberikan perlindungan kepada rakyat negeri ini,” kata imam Fransiskan itu kepada media di luar katedral.
Saat ini, 55 orang, termasuk seorang Kristen dan dua orang Hindu, sedang dirawat di rumah sakit. Presiden dan perdana menteri telah mengutuk ledakan itu sementara menteri utama Provinsi Sindh telah mengumumkan kompensasi 500.000 rupee (US $ 5.910) untuk keluarga dari mereka yang tewas, dan 100.000 rupee untuk setiap orang yang terluka.
Berbicara kepada UCA News, Pastor Arthur Charles, vikjen Keuskupan Agung Karachi mengatakan, “Ini merupakan yang pertama kali bahwa rumah sakit dan korban bom menjadi sasaran ledakan. Agaknya para pelaku telah sedemikian tenggelam ke dalam kebiadaban dan ketiadaan rasa hormat terhadap kehidupan. Orang tidak dapat membayangkan apapun yang diajarkan mereka,” katanya.
PA08744.681b