Email this to a friendEmail This Post                      Printable versionPrint This Post

MYANMAR - MYANMAR – Komisi Gereja Memulai Puskesmas Keliling untuk Melayani Penduduk Desa

Published Date: February 5, 2009

YANGON (UCAN) – Dengan truk pickup sewaan, Komisi Kesehatan Keuskupan Agung Yangon memulai puskesmas keliling untuk merawat penduduk desa yang miskin dan mendidik mereka tentang masalah kesehatan.

Salah satu perhentian perjalanan bulanan puskesmas keliling itu adalah desa Ngetorsan, selatan Yangon, yang sekitar mana 140 warga desa memadati halaman Gereja St. Theresa pada 24 Januari.

Tim yang terdiri dari tujuh dokter, dua perawat, dan seorang teknisi itu menyelenggarakan pemeriksaan medis, tes darah, perawatan medis, dan pendidikan kesehatan bagi masyarakat, termasuk anak-anak, perempuan hamil, serta orang tua dan orang sakit. Mereka berasal dari tiga desa sekitar. Komisi kesehatan itu harus menyewa truk itu karena tidak mempunyai kendaraan yang cocok.

Mary Aye Aye Khaing, 39, seorang warga desa, mengatakan bahwa air yang kotor menjadi alasan mengapa banyak penduduk sakit. “Kami tidak terbiasa memasak air. Kami meminum air dari sumur dan danau, sehingga kebanyakan anak menderita diare, termasuk bayi saya,” katanya.

Berobat ke dokter itu sangat mahal, tambahnya, seraya menyambut baik puskesmas keliling Gereja itu. “Jika terjadi sesuatu, kami harus pergi ke kota untuk berobat ke dokter. Tapi saya miskin dan tidak mampu ke sana. Saya sungguh berterima kasih kepada kelompok yang terdiri dari para dokter dan perawat ini.”

Penduduk lainnya, Tint Lwin, 47, juga mengungkapkan penghargaannya. “Badai Nargis membuat kami miskin dan kami tidak mampu berobat ke klinik ketika kami sakit. Sekarang para dokter itu memberi saya obat untuk tangan saya yang sakit dan melalui pendidikan kesehatan, kami jadi tahu tentang semua penyakit dan pencegahannya,” kata pria beragama Buddha itu.

Sanda, 46, mengeluh tentang penglihatannya yang kabur dan terus merasa pusing. Ketika sedang mengantri, perempuan dari Gereja Baptis itu menceritakan masalah medis lainnya – anak perempuannya yang berusia 4 tahun tidak memiliki lubang vagina. Sanda tidak mampu membiayai pengobatan bagi dirinya dan anaknya itu di rumah sakit sehingga ia berharap dokter-dokter Katolik dapat menolongnya.

Dokter Valentina Soe Myint mengatakan kepada UCA News bahwa tim itu telah berencana agar gadis itu dirawat di sebuah rumah sakit anak di Yangon.

Felistidine Cherry, seorang perawat, menjelaskan bahwa program pendidikan kesehatan itu berkaitan dengan diare, demam berdarah, influenza dan hipertensi, sekaligus pemeliharaan kesehatan. “Tak seorang pun memberikan pendidikan kesehatan untuk para penduduk desa. Kami memiliki kesempatan yang bagus untuk membagikan pengetahuan kami kepada orang-orang termiskin,” katanya.

Dokter Soe Myint memaparkan tujuan-tujuan pokok puskesmas keliling seperti memberikan perawatan medis bagi mereka yang tidak mampu berobat ke rumah sakit dan sejak awal mencari tahu apakah masyarakat menderita penyakit. “Kami akan pergi dari desa ke desa untuk memberikan perawatan medis, dan jika dibutuhkan kami akan mengadakan perawatan lanjut. Kami juga akan mencoba membantu mereka yang membutuhkan perawatan medis di berbagai rumah sakit Yangon.”

Para anggota Komisi Kesehatan Keuskupan Agung Yangon, yang dibentuk tahun 2003 dari serikat kerja para dokter dan perawat Katolik, bertemu setiap bulan. Dokter-dokter itu juga secara sukarela bekerja untuk klinik St. Lazarus di Yangon. Sementara itu, komisi tersebut dibentuk untuk mengadakan program khusus lainnya: pemeriksaan medis untuk para peziarah dalam perayaan pesta Maria dari Lourdes pada 11 Februari di  Nyaunglebin, utara Yangon.

END



1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

616 words


Share this article: Share/Save/Bookmark

blog comments powered by Disqus
Stay in Touch
Subscribe to UCA News free Newsletter
UCAN Photo Gallery